Gunungkidul, kabartravel.com –
Pengembangan Pariwisata yang sedang digalakkan pemerintah Kabupaten Gunungkidul masih kurang seimbang antara zona selatan, tengah dan Utara.

Seperti di zona utara yaitu Kecamatan patuk, Kecamatan Ngelipar, Kecamatan Ngawen dan Kecamatan Semin masih belum di eksplorasi dengan maksimal, semisal hutan adat purba Wonosadi di Desa Beji, Kecamatan Ngawen, Gunungkidul.

Kepala Desa Beji Suparno, S.Sos mengatakan walaupun sudah ada perhatian dari dinas terkait mengenai hutan Wonosadi namun belum tereksplorasinya kawasan hutan lindung rakyat ini secara masif.

“Hutan adat Wonosadi adalah hutan lindung yang di lestarikan oleh masyarakat, dan kami selama ini merasa di zona Utara ini tertinggal dari di zona selatan, karena Gunungkidul di bagi 3 zona selatan ,tengah, dan utara,” katanya.

Wisata zona Utara lebih banyak obyek wisata religius sehingga butuh penanganan khusus dan zona Utara adalah pintu masuk wisata Gunungkidul apakah dari S emin di sebelah timur atau pintu masuk dari Ngawen sendiri.

Suparno juga menambahkan sarana penunjang pariwisata juga terus dikembangkan di kawasan Wonosadi, seperti penyediaan homestay, sarana parkir pengunjung dan juga penyediaan pusat oleh-oleh.

“Saat ini wisatawan kita sudah bergeser tipikalnya, mereka lebih senang tinggal di rumah-rumah penduduk sehingga mereka bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat, mereka ini kan orang kota tinggal di hotel itu biasa dan mereka mencari hal yang belum biasa,” tambahnya.

Harapan dari pengembangan wisata di Gunungkidul ini terjadinya sebuah pemerataan pengembangan zonasi pariwisata sehingga harus bisa menjadi catatan pemerintah kabupaten maupun pemerintah provinsi bahkan kementrian pariwisata. (WAP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here