Maninjau, Kabartravel.com – Pulau Bangau adalah sebuah potensi wisata alam unik yang dimiliki Maninjau, Kabupaten Agam. Pulau ini terdapat di Danau Maninjau. Tepatnya di Nagari Duo Koto, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar).

Sebuah pulau kecil yang terletak di tengah danau Maninjau dihuni oleh ratusan burung bangau, menjadi atraksi menarik. Sensasi ‘gerombolan burung bangau’ dapat dinikmati, sore menjelang malam, ketika ‘sang bangau pulang ke kandang’, usai menjalani kehidupan seharian diseputaran danau.

Mirald Dahra, tokoh muda peduli wisata Danau maninjau, asal nagari Kotobaru, mengajak Kabartravel.com melihat dari dekat pulau Bangau. Miral, panggilan akrab, tokoh yang juga aktif dibidang seni dan budaya ini, bercerita panjang lebar seputar sejarah dan potensi Pulau Bangau sebagai distinasi wisata baru.

Mirald menyebutkan, setiap sorenya burung yang berwarna putih bersih itu selalu beterbangan disekitar dan menjadikan tempat tersebut sebagai tempat berkumpul dan bermalam. Menurutnya, pulau kecil yang tidak berpenghunyi ini, dulunya bernama ‘pulau akaik’. Akaik (ahad) adalah nama nagari di wilayah ini.

“Pulau Bangau berjarak sekitar 400 meter dari dermaga Objek Wisata Linggai, rencana kedepannya kita akan menjadikan kawasan tersebut sebagai kawasan wisata,“ ujarnya saat berbincang dengan Kabartravel.com, Kamis (5/12/2019).

Lebih lanjut Mirald menyebutkan, objek wisata pulau Bangau secara resmi akan diperkenalkan bersamaan dengan objek wisata Linggai, yang saat ini tengah dalam tahap penyelesaian pembangunannya pada ivent Festival Pesona Danau Maninjau sekitar bulan Juni  2020 mendatang.

“Kita tau burung bangau merupakan hewan yang dilindungi, jangan sampai ide menjadikan salah satu daya tarik wisata bisa berimbas kepada populasi dan  habitatnya,“ terangnya.

Diakui Mirald dan diiyakan masyarakat seputar Linggai, populasi tersebut sebenarnya sudah terlalu banyak di sekitar lokasi sehingga meresahkan masyarakat yang beternak ikan di sekeliling danau Maninjau. Para petani Karamba Jaring Apung (KJA) selalu siaga, jika tidak kawanan bangau akan memakan bibit ikan yang sedang di budidayakan.

“Meski demikian kita mengimbau masyarakat agar tidak mengusik atau membunuh, cukup mengusir saja ketika hinggap di KJA,“ lanjutnya.

Sementara itu, seperti yang dirilis Covesia.com, Unit Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Ade putra menjelaskan, berdasarkan pengamatan secara visual, jenis burung yang ada dipulau ini adalah bangau putih (Bubulcus ibis), namun perlu dilakukan identifikasi lebih lanjut untuk mengetahui populasinya dan pola hidupnya. mengingat burung ini merupakan satwa dilindungi oleh undang undang.

Untuk pengembangan kedepannya, lokasi ini dapat diusulkan oleh wali nagari melalui Pemerintah Kabupaten Agam sebagai kawasan esensial, sehingga dapat dilakukan upaya konservasi sekaligus untuk mendukung pariwisata Danau Maninjau berupa kegiatan atraksi pengamatan burung (Birdwatching)

“Kawasan ekosistem esensial adalah kawasan atau lokasi diluar kawasan hutan yang memiliki potensi tumbuhan atau satwa langka dan dilindungi serta memiliki nilai ekosistem yang tinggi,“ terangnya. (Wisja)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here