AGAM, KABARTRAVEL.COM – Berkelit, menggeliat dan saling serang para pesilat muda dari tiga puluh sasaran (perguruan) silat tradisonal Minang yang diiringi hentakan musik tansa, tambur (perkusi), melodi talempong, bansi dan puput di halaman Balai Adat Nagari Lasi kecamatan Canduang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Sebuah kolabarasi seni tradisi yang dikemas secara modern dan menghibur turut memeriahkan gelaran Galanggang Marapi-2017 di Agam, Sumatera Barat. (Minggu, 31/12/2017)

Sesekali penonton terkesiap melihat kilatan pisau. Seakan menembus dan merobek perut pasangan pesilat yang saling menyerang, mengelak dan menangkis. Dalam sekejap tikaman pisau lawan dapat dielakkan, malah pisau seukuran dua jengkal orang dewasa itu dapat dirampas dan berpindah tangan. Serangan balasan dengan pisau yang dirampas itu pun berbalik arah.

Pada saat itu pula gemuruh tansa dan tambur turut memicu andrenalin penonton yang menyaksikan penampilan pasangan pesilat-pesilat tradisional Minang tersebut, meskipun hujan dan gerimis silih berganti namun penonton tak menghiraukannya.

Pada waktu sela, penampilan silat sanggar seni tradisi dari “Ganto Rang Sapuluah” menghibur penonton dengan berbagai ragam atraksi musik, apalagi melihat lincahnya tangan-tangan remaja yang baru beranjak dewasa tersebut memainkan alat-alat musik tradisi dan membawakan lagu-lagu pop Minang.

Walau dingin malam berselimut gerimis di kaki Gunung Marapi, penonton tetap bertahan.

Pada malam penutupan Galanggang Marapi-2017 beragam musik tradisi bernuansa religi dari sanggar Ganto Rang Sapuluah, menghantarkan penonton mengikuti taushiah, zikir dan doa bersama demi keselamatan bangsa dan negara Indonesia, serta renungan malam Galanggang Marapi-2017.

Ganto Rang Sapuluah adalah sanggar seni tradisi, secara mandiri didirikan oleh pemuda nagari Lasi, berupaya menggali, mengemas dan menampilkan seni tradisi dalam berbagai gelaran, dengan mengusung konsep pelestarian seni dan budaya tradisional Minangkabau dari pelosok kampung di Sumatera Barat. Namun sebagai improvisasi seninya, berbagai ragam musik tradisi dari daerah dan negara lain pun mereka pelajari.

Sayangnya, perhatian dan dukungan dalam bentuk pembinaan dan pemberdayaan dari pihak pemerintah termasuk pemerintahan nagari (desa)-nya tidaklah sebanding dengan semangat komitmen yang mereka usung. Mereka bukan ‘ditumbuhkan, namun ‘tumbuh dari bawah’, dan bukan hanya sekedar berbincang tentang pelestarian nilai-nilai, seni dan budaya tradisional sebagai bahagian dari kebudayaan nasional.

“Entah, kalau ke depannya? Karena yang membidangi kebudayaan ini bukan lagi Dinas dan Kementrian Pariwisata, yaitu sekarang berada pada Dinas dan Kementrian Pendidikan”, kata Edi Katik Bagindo, salah seorang Pembina sanggar ini dan juga salah seorang pionir handalan BNPB kabupaten Agam.

“Bahkan anak-anak sanggar ini dominan adalah anak-anak yang orangtuanya tidak mampu” Imbuhnya lagi.

Suardi Mahmud, sesepuh di Nagari Lasi dan Komunitas Selaras Alam, menjelaskan alasan Galanggang Marapi-2017 dilaksanakan tepat dengan pergantian tahun 2017 ke 2018. Gelaran ini berawal dari ide kawan-kawan memandang perlu mulai diadakannya gelaran dengan nafas lokalitas dan tradisi di akhir tahun dengan tujuan guna mengalihkan perhatian generasi muda dan juga para orangtuanya terhadap eforia pesta pergantian tahun yang semakin mewabah.

Pada masa kini, orang tua tidak dapat sekedar mengumpat dan melarang. Generasi muda harus dicarikan jalan untuk mengalihkan perhatian dari pengaruh global tersebut, sedapat mungkin mereka mulai mencintai khasanah tradisi mereka sendiri sesuai dengan alam mereka dilahirkan dan diasuh.

Suardi menambahkan, “Kami tidak berbicara tentang kuantitas seberapa orang yang terlibat dan berapa banyak penonton yang menyaksikan, beberapa orang saja itu sudah cukup. Semoga pada masa selanjutnya hal serupa juga berimbas ke daerah-daerah lain, lambat laun tujuan mulia ini memperoleh hasil. Sehingga generasi kita nantinya tidak kehilangan jati dirinya sebagai anak bangsa Indonesia yang kaya akan kronik budayanya sendiri”.

“Alhamdulillah, maksud dan tujuan kami mendapat respon dari Bupati dan Sekretaris Daerah Kabupaten Agam melalui sokongan moril dan dana, meski tidak seratus persen, serta partisipasi dari berbagai kalangan yang peduli” Pungkasnya. (Donny Magek Piliang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here