PAYAKUMBUH, kabartravel.com
– Sejarah Batu Talempong Mesti harus diketahui, dikenali dan patut dikembangkan oleh masyarakat Indonesia, Sumatera Barat dan terutama sekali bagi Masyarakat Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh kota

Batu Talempong ini berada di Talang Anau bagian wilayah Kecamatan Suliki Kabupaten Lima Puluh Kota, yang terkenal dengan keberagaman budaya dan tradisi serta berbagai macam peninggalan sejarah berpotensi, menjadi prospek menarik bagi wisatawan untuk datang berkunjung ke daerah tersebut. apabila dikembangkan secara terpadu agar bisa menjadi  andalan sehingga meningkatkan nilai tambah yang akhirnya bermamfaat bagi peningkatan pendapatan masyarakat daerah tersebut.

Dari sekian banyak peninggalan sejarah yang terdapat di daerah Suliki tersebut, salah satunya yang belum terlalu dikenal adalah peninggalan sejarah yang terdapat di Kenagarian Talang Anau  seperti Batu Talempong. Batu Talempong ini merupakan sejenis batu yang bisa mengeluarkan bunyi apabila diketuk dengan batu.

Walaupun kecil, tetapi tidak sembarangan orang yang bisa membunyikan batu talempong tersebut, melainkan  melakukan terlebih dahulu ritual khusus yang biasanya membakar kumayan dan mantra dari juru kunci tempat Batu Talempong tersebut berada.

Batu ini Berawal dari sebuah mimpi dari seorang syeh yang bernama Syamsudin yang konon katanya ia bermimpi tiga malam berturut-turut, dalam mimpinya ada semacam titik cahaya yang berterbaran di sekitar tempat tinggalnya dan ia pun mencari arti dari mimpi tersebut, setiap titik cahaya yang ada dalam mimpinya ditemukan batu yang bisa berbunyi apabila diketuk mengeluarkan bunyi bagaikan suara alunan musik tradisional asal Minangkabau.

Setiap batu tersebut ditemukan di tempat yang berbeda sesuai dengan titik–titik cahaya yang tergambar dalam mimpinya, setelah batu tersebut dikumpulkan sebanyak enam buah batu yang berukuran berbeda tersebut, dan beliau membawa kerumah nya dengan cara menghalau batu tersebut seperti orang mengembala itik ke kandangnya di waktu senja, lalu ia membawa batu tersebut ke rumahnya yang mana ada sebuah lubang bawah tanah, sebagaimana lubang itu adalah penghubung antara desa tersebut dengan bukit yang panjangnya di perkirakan 800 M, dan berdiameter 3×5, namun belum ada satu orangpun yang mampu menembusnya karna tidak adanya udara, dan sampai sekarang belum ada yang mengetahui asal usul lubang tersebut.

Kata  Afrizal selaku juru kunci  batu talempong itu, Dahulu kala  sebelum tempat tersebut di jadikan tempat batu talempong tempat itu adalah sebuah kerajaan yang punah, setelah Syamsudin menemukan batu itu orang tuanya meninggal dan tempat itu di jadikan kuburan masal, lalu Syamsudin menjadikan tempat itu sebagai tempat bermainnya, namun tidak lama setelah kejadian itu Syamsudin tiba–tiba menghilang dan tidak pernah di temukan sampai saat sekarang ini.

Setelah ia menghilang warga desa tersebut sering melihat Syamsudin muncul tiba–tiba di tempat yang berbeda dan saat itu warga menjuluki nya sebagai “TUAN KU NAN HILANG”. Peninggalan satu-satunya dari  tuanku yang hilang itu adalah tongkat yang mana sekarang di letakkan di rumah panjang kepunyaan seorang Datuk Lareh.

Semenjak TUAN KU NAN HILANG tersebut menghilang, batu talempong dirawat oleh warga sekitar, hingga pada akhir tahun 2012 Bapak Afrizal di tetapkan sebagai penjaga dan penangung jawab batu talempong tersebut oleh dinas pariwisata, pada awalnya susunan batu tersebut disusun dari yang besar ke yang kecil, namun agar bisa dimainkan menjadi sebuah lagu mahasiswa, ASKI merubah letak batu tersebut menjadi sebuah tangga nada yaitu C – D – E – F – G yang mana susunan itu yang dipakai sampai sekarang.

Afrizal juga mengungkapkan, pernah terjadi kejadian aneh dimana ada serombongan mahasiswa yang datang dan salah seorang dari mereka memukul batu tersebut tanpa ada juru kuncinya di tempat, dan setiap kali dia memukul batu tersebut batu yang jadi pemukulnya pecah sampai tiga kali lalu warga sekitar memanggil juru kunci dan tidak membolehkan mereka bermain lagi, keesokan hari nya mahasiswa tersebut jatuh sakit dan disuruh bernazar dua butir telur itik sebagai penyembahan tempat tersebut. dan akhirnya mahasiswa tersebut sembuh.

Menurut penelitian batu talempong ini mengandung unsur logam dan emas sehingga bisa mengeluarkan bunyi. Pada akhir tahun 2012 warga membangun pagar dari besi sebagai pelindung batu itu.

Robby Angles Yunisco

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here