Maninjau, Kabartravel.com  – Bagi para wisatawan yang berkunjung ke Danau Maninjau, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, tidak lengkap kiranya bila belum mencoba  ‘palai rinuak’, cemilan khas Danau Maninjau.

Makanan khas dari olahan ikan yang konon hanya ada di danau Maninjau, hingga kini sudah menjadi kudapan yang lezat untuk disantap para wisatawan yang berkunjung.

Selain untuk kudapan, masyarakat di sekitaran Danau Maninjau juga menjadikan palai rinuak sebagai lauk untuk hidangan makan, karena kelezatan palai rinuak dapat membangkitkan gairah makan yang hilang. Dan bagi perantau, biasanya bila dapat kiriman makanan ini dari kampung halaman, lepas kerinduan rasanya dengan ranah tercinta.

Palai rinuak atau yang disebut dengan pepes rinuak, terbuat dari bahan dasar rinuak yang merupakan ikan endemik di Danau Maninjau dengan nama ilmiah Psilopsis sp yang diklasifikasikan ke dalam kelas Pisces (ikan). Bentuk ikan rinuak sekilas mirip teri medan.

Ukurannya sangat mini berkisar 2-3 cm dan memiliki warna badan pucat kekuning-kuningan dan relatif transparan. Tekstur dagingnya lunak dan tidak berserat. Jika dikukus akan menjadikan ikan rinuak berwarna putih, sementara jika diblender akan berubah warna menjadi kehitaman.

Kembali ke palai rinuak. Salah seorang penjual palai rinuak bernama Desi (42) menyebut cara pembuatan palai rinuak, sama dengan pepes di Jawa. Pertama, ikan rinuak segar dicuci bersih lalu ditiris, dan diberi bumbu halus bawang merah, bawang putih, cabai, garam dan lada secukupnya. Aduk rata lalu diamkan selama 30 menit.

“Setelah itu, tambahkan parutan kelapa dan daun bawang. Kemudian bungkus dengan daun pisang dan ditata berjejer di atas seng, lalu diletakkan di atas tungku untuk dibakar dengan nyala api kayu bakar,” kata Desi saat ditemui di kawasan wisata Danau Maninjau belum lama ini.

Desi juga menyebut bahwa rinuak tidak hanya diolah menjadi pepes, tapi juga banyak diolah menjadi goreng rinuak yang bentuknya menyurapi bakwan goreng. Cara pembuatannya pun juga sama seperti membuat bakwan.

 Untuk Pakan Ikan

Saat ini hasil tangkapan ikan rinuak di Danau Maninjau masih melimpah. Meski pada waktu belakangan, ikan khas Danau Maninjau ini sempat terancam punah, akibat maraknya keramba apung. Selain diolah menjadi palai rinuak dan goreng rinuak, hasil tangkapan rinuak juga dijual ke pasar-pasar tradisional, khususnya di beberapa wilayah di Agam seperti Maninjau, Lubuk Basung, dan Matur.

“Selain dijadikan bahan makanan konsumsi manusia, ikan rinuak ini juga sudah mulai marak dijadikan sebagai pakan ikan peliharaan,” ujar Sapar (52), salah seorang penambak iklan di kawasan Danau Maninjau.

Berdasarkan hasil uji laboratorium Universitas Bung Hatta, Padang, kata Sapar, diketahui bahwa penggunaan pakan berupa adonan ikan rinuak kukus, dapat dijadikan sebagai bahan campuran pakan larva pengganti cacing sutera, karena ikan rinuak yang telah dikukus memiliki nilai nutrisi protein 16,3% dan lemak 4,85%.

“Kemudian penelitian lain juga menyebut bahwa adonan ikan rinuak mentah, juga memiliki kandungan protein 21,05% dan lemak 5,93%. Sedangkan ikan rinuak kering, memiliki kandungan protein 20,72% dan lemak 5,76%,” beber Sapar.  (Riki/Wisja)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here