MALANG, kabartravel.com – Matahari semakin terik menyinari kawasan Pujasera Lawang, Kabupaten Malang, Kamis (27/9/2018). Meski panas, masyarakat setempat, nyatanya tidak ingin meninggalkan tempat tersebut karena terdapat kegiatan menarik yang baru pertama kali dilaksanakan. Acara dimaksud, yakni Festival Lawang Kota Tua (FLKT) yang dilaksanakan dari 27 sampai 29 September 2018.

Saat memasuki kawasan, warga akan disuguhi sejumlah tenda yang berjejer di sekitaran Pujasera Lawang. Tak hanya makanan era kini, 250 tenda tersebut juga ada yang menyediakan kuliner jadul. Beberapa bahkan menampilkan sejumlah mainan lawas yang dahulu selalu digunakan anak-anak bermain.

Untuk semakin menyemarakkan festival, acara pembukaan sempat diiringi penampilan kuda lumping dari para pelajar tingkat SD. Kemudian dilanjutkan dengan unjuk gigi para lansia yang memainkan angklung sambil bernyanyi. Meski gerakan dan penampilan terbilang sederhana, para pengunjung terlihat menikmati kegiatan tersebut.

Ketua Panitia Penyelenggara FLKT, Tarmuji menerangkan, Lawang pada dasarnya merupakan pintu gerbang pariwisata di wilayah Malang Utara. Dari hal dianugerahi ini tak disangka-sangka Lawang terpilih menjadi salah satu 100 Top Event Wonderful Indonesiadari Kementerian Pariwisata (Kemenpar) 2018.

“Kami sudah lama ingin Lawang seperti saudara lain, di kecamatan lain, kabupaten lain sehingga kita bisa sejajar. Kami iri dengan Banyuwangi dan Jember, tapi inilah kebanggaan warga Lawang. Kita tidak menduga masuk kategori tersebut,” kata Tarmuji saat memberikan sambutan FLKT di Pujasera Lawang, Kabupaten Malang, Kamis (27/9).

Di kegiatan awal, Tarmuji mengungkapkan, pihaknya telah berhasil mengundang sejumlah veteran yang berada di Lawang. Mereka berkumpul mengadakan ziarah di Taman Makam Pahlawan sebagai bentuk penghargaan atas perjuangan para mendiang. Apalagi, dia melanjutkan, Lawang memiliki banyak peninggalan dari zaman kolonial yang membuktikan kelawasan wilayahnya.

Menurut Tarmuji, sekitar 300 bangunan bersejarah tersebar di sejumlah pelosok Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang. Tidak semua masih berbentuk utuh dan adapula yang sudah beralih tangan kepemilikan. “Dan dari sini kita ingin sejajar dengan kota- kota tua lainnya di Indonesia seperti di Jakarta dan Ampenan. Mohon dukungannya!” tegas dia.

Untuk memperkuat sisi festival, Tarmuji juga telah mengadakan kirab budaya lintas etnis. Kemudian dilanjutkan dengan bazar bertemakan zaman dahulu dan sekarang yang berlangsung hingga Sabtu (29/9). Dari 250 tenda, 60 stand menyajikan nuansa tua sedangkan lainnya baru.

“Sebenarnya banyak sekali permintaannya. Tapi karena ini baru pertama kali, jadi kita batasi. Kita harapkan festival berikutnya bisa memenuhi permintaan hingga 1.000 peserta,” tambah dia.

Semarak budaya di festival ini tak berhenti di aspek itu saja. Tarmuji juga menyajikan lomba tari tradisional bapang untuk kalangan pelajar dari SD sampai SMA/sederajat. Pemilihan lomba ini bertujuan agar generasi yang sudah mulai melupakan budaya bisa mencintai kembali.

Apalagi, dia menambahkan, tarian ini masuk ke dalam kesenian khas Kabupaten Malang. “Kita juga punya lomba fashion zaman olduntuk kategori para pelajar,” jelasnya.

Festival semakin meriah dengan diadakannya kompetisi memasak kuliner zaman dahulu. Berbeda pada umumnya, peserta tidak diperkenankan menggunakan bahan baku beras. Anggaran bahan-bahan masakan juga dibatasi, yakni di bawah Rp 100 ribu.

Dengan adanya kegiatan ini, Tarmuji sangat berharap, Lawang memiliki sebutan khusus seperti halnya di Kecamatan Singosari Malang dan Kota Batu.  “Kita ingin disebut Lawang sebagai kota tua seperti Singosari disebut kota santri dan Batu sebagau kota apel. Alangkah indahnya, di Lawang ada baliho besar yang ada tulisan sambutan atau slogan selamat datang di kota tua Lawang,” harap Tarmuji.

Mengenai nilai kelawasan Lawang, Bupati Malang, Rendra Kresna menilai serupa. Lawang, kata dia, memang terbilang kota tua karena memiliki banyak peninggalan zaman penjajahan yang beberapa masih terawat. Tidak hanya peninggalan zaman kolonial, tapi juga dari masa Kerajaan Singosari.

“Dan yang paling khas dari Lawang adalah kehidupannya yang hidup 24 jam. Beda dengan wilayah lain, kalau jam 10 malam sudah pada tutup,” kata Rendra.

Karena sifat demikian, Lawang tentu memiliki tugas untuk bagaimana mengadakan suatu kegiatan yang dapat mengundang orang berdatangan sehingga menciptakan keramaian. Hal ini dapat terjadi apabila budaya, kesenian dan kuliner setempat terus ditingkatkan. Ditambah lagi, jika terdapat terobosan para pemuda dalam menciptakan sesuatu seperti pertanian organik, hasil kerajinan batik dan lain sebagainya.

“Dan yang paling penting, kegiatan ini harus bisa bagaimana keramaian festival ini dapat menciptakan perbaikan pada ekonomi masyarakat. Orang dapat berkreasi menciptakan sesuatu dengan kreasinya sehingga mempengaruhi pada pendapatan, ke depannya” tambah dia.

Di kesempatan serupa, Koordinator Calendar of Event (CoE), Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Raseno Arya berharap, Kabupaten Malang terutama Lawang dapat mengadakan festival bertemakan lain. Salah satu di antaranya bisa mengadakan festival kuliner jenang dalam aspek lebih besar.

Pasalanya, Kegiatan ini tak sekedar mempopulerkan wilayah tapi juga mampu membantu meningkatkan perekonomian masyarakat. “Mudah-mudahan semakin banyak yang datang, baik dari Malang sendiri maupun kota-kota lain,” ungkap dia.

(Hendro. BL)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here