SULUT, Kabartravel.com – Gaung pariwisata di bumi muung (Tomohon) nampak kian menggema, bukan saja dikancah nasional namun semakin mendunia.

Sejalan dengan itu kabartravel.com dan harianindonesia.id media dibawah jaringan Kabarpolisi Polisi Group (KMG) mencoba menelusuri manfaat positif baik terhadap kemajuan daerah serta peningkatan ekonomi warga dari iven yang sudah tiga kali berturut-turut masuk dalam 100 Calendar of Event oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, terlebih penyelenggaraannya telah dilaksanakan sejak tahun 2008 hingga sekarang tahun 2019.

Tomohon Internasional Flower Festival (TIFF) adalah suatu acara bertema bunga dan dikemas dalam berbagai kegiatan yaitu parade, karnaval, kontes, pameran, pagelaran seni budaya maupun pertunjukan lainnya yang bertaraf nasional bahkan internasional.

Senin 29 Juli 2019 media ini berhasil mewawancarai Sekretaris Dinas Pariwisata Kota Tomohon A.E Senduk, ditengah kesibukannya dalam rangka persiapan TIFF.

Senduk menjelaskan bahwa iven tersebut selain promosi pariwisata daerah, diharapkan pula dapat memberikan inkam buat seluruh lapisan masyarakat di kota bunga.

Ketika ditanya bagaimana dengan penggunaan anggaran, ia mengatakan untuk tahun 2019 biayanya berkisar 2,2 milyar rupiah.

“Muda-mudahan kegiatan ini bertambah maju dan diminati wisatawan dengan sendirinya anggaran berangsur-angsur dapat dipangkas, bahkan bisa menjadi salah satu sumber pendapatan asli daerah (PAD)”. Jelasnya.

Sewaktu disentil apakah Tomohon layak disebut kota bunga mengingat hampir disetiap pintu gerbang kota masih terbilang kurangnya taman dan tanaman bunga, Senduk tidak menapik hal itu.

“Masalah ini bukan ranah pihaknya, tetapi lebih tepat apabila dikonfirmasi ke dinas pertanian dan dinas perkim”. Ujar Sekretaris.

“Memang ketua panitia TIFF 2019 Angelina Tengker saja sempat melontarkan kritikan”. pungkasnya.

Rabu 30 Juli 2019 wartawan media ini bermaksud memperoleh statement Kadis Pariwisata Hasna Pioh, namun via WhatsApp miliknya hanya mengirimkan berupa artikel yang menjelaskan rangkaian kegiatan, formulir pendaftaran peserta dan lain sebagainya.

Dapat diberitakan, sebelumnya kepada KMG Kadis Perumahan dan Pemukiman Enos Pontororing mengakui jika tanaman hias yang pernah dipajang dibeberapa titik jalan protokol rusak akibat kurangnya perawatan.

Sementara itu Kadis Pertanian Steven Waworuntu (1/8/2019) mengungkapkan, saat ini instansi yang dipimpinnya telah membina 25 kelompok tani yang bergelut dalam penanaman bunga hias.

“Meski demikian menjaga agar tidak terjadi kelebihan stok, pemerintah sedang mengkaji bagaimana solusinya bagi petani yang belum terakomodir tapi tetap eksis dengan usahanya”. Ungkap Kadis.

Menyikapi upaya Pemkot Tomohon membantu peningkatan kesejahteraan petani bunga, Kementerian Pertanian Republik Indonesia melalui Lely Qodiyah staff peneliti dan penyuluh khusus tanaman hias yang ditemui di Show Window menyatakan bila Tomohon sangat cocok untuk dikembangkan sebagai daerah penghasil bunga.

Dikabarkan juga demi menyelaraskan berita ini, pewarta menyambangi sejumlah petani maupun pedagang bunga di bilangan Kakaskasen Tomohon Utara.

Informasi yang berhasil dihimpun dari seorang petani bunga Johny Kalalo menyebutkan, ia bersama rekan-rekan kelompok tani lainnya merasa beruntung atas kebijakan dinas terkait.

pasalnya semenjak bermitra dengan pemerintah daerah, keuntungan yang mereka dapatkan sangat signifikan dan bunga yang dipanen pun tidak mubazir.

Kendati dialami Meidy Rumondor sangatlah berbeda, yang menurut penuturannya ia dan suaminya Yance Mandagi tak lagi tertarik untuk membudidayakan tanaman hias.

“Taong lalu torang pe bunga cuma da se buang parcuma, dorang suruh cabu bilang somo datang bayar mar de pe laste nyanda jow kote” “Tahun 2018 lalu bunga kami hanya dibuang percuma, kata mereka (Pemkot – red) akan segera dibayar yang pada kenyataannya tidak juga”. Tutur Meidy seakan tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.

Ditempat terpisah Ola Bokong yang sudah bertahun-tahun menjual berbagai jenis kembang hias mengatakan, ada ataupun tidak adanya iven TIFF ia tetap berdagang.

Seperti diketahui guna mempromosikan potensi wisata di kota sejuk ini, Walikota Jemmy Eman beserta beberapa pejabat daerah kerap bertandang ke luar negeri.

Akan tetapi oleh sebagian kalangan berpandangan, perjalanan yang sering dilakukan itu bukanlah langkah tepat manakala membebani Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).

“Coba media massa kritik kunjungan pejabat pemkot yang sering berangkat ke berbagai negara, biayanya mungkin dipertanggungjawabkan tapi saat dalam kunjungan sembari swas photo secara psikologi apakah mereka tidak prihatin dengan warganya yang masih kurang mampu”. Tegas sumber.

Adanya sorotan tajam itu salah seorang pejabat membenarkan ada oknum yang memanfaatkan moment untuk bergaya, namun terkait dana yang digunakannya dirogoh dari koceknya pribadi.

Tanggapan miring datang juga dari Lembaga Komunitas Pengawas Korupsi (LKPK) Teritorial Sulawesi Utara Bertje Rotikan yang menanyakan pertanggungjawaban penggunaan APBD disetiap pelaksanaan TIFF maupun azas manfaat kunjungan segelintir pejabat ke luar negeri.

“Tahun 2015 anggaran TIFF mencapai 12 milyar rupiah, tiba-tiba tahun 2016 tinggal 800 juta rupiah dan tahun 2019 2,2 milyar”. Tandas Bertje.

“Kami meminta kepada pemerintah daerah lebih transparan sehingga publik bisa mengetahui serapan, kontribusi ataupun dampak positif lewat kegiatan-kegiatan tersebut”. Harapnya. (Handry Tuuk).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here