SULUT, kabartravel.com – Siang itu Kamis 8 Agustus 2019 kabartravel.com ikut berbaur dengan masyarakat maupun sebagian peserta di sekitaran panggung utama.

Walaupun bermodalkan kamera handphone bila dibandingkan fotografer ataupun insan pers lainnya yang menggunakan kamera digital canggih, awak media ini tak merasa minder turut mengabadikan kehadiran para tamu undangan termasuk Menteri Pariwisata Republik Indonesia Arief Yahya bersama sejumlah Duta Besar negara sahabat juga Walikota Jimmy Feidy Eman serta Wakil Walikota Tomohon Sherly Adeline Sompotan.

Sambutan demi sambutan disampaikan baik yang dilakukan menteri secara langsung, ataupun melalui video oleh Gubernur Sulawesi Utara bahkan ketua panitia Tomohon Internasional Flower Festival tahun 2019.

Berbagai lagu, tari dan alat musik khas daerah digelar antara lain kolintang, tari kabasaran atau cakalele yang merupakan tarian sudah turun temurun dan sering ditampilkan untuk menyambut tamu-tamu yang berkunjung ke daerah ini.

Bahkan ada satu pertunjukan yang cukup menarik perhatian dan memanjakan mata semua yang menyaksikan aksi panggung ini, yaitu tarian Ma’zani yang masuk dalam rekor MURI sebagai penari terbanyak yang dibawakan oleh 1.530 guru-guru se Kota Tomohon.

“Suatu prestasi yang membanggakan tentunya dan patut diapresiasi”.

Dijelaskan oleh Masye Mamahit salah satu peserta sekaligus pengajar di SD Inpres Tara Tara I yang diamini pula rekannya Audy Wayong guru di SD GMIM III Tomohon mereka berdua dan 12 penari lainnya merupakan tumu’tuuz (solo) atau pemimpin.

Disisi lain dari pelaksanaan iven yang setiap tahun menghabiskan anggaran milyaran rupiah itu oma Marie Wuisan warga Kelurahan Paslaten berpendapat, sebaiknya pemerintah kota lebih memperhatikan masyarakat yang telah lanjut usia.

“Ketimbang beking abis doi for TIFF coba kase bantu for lansia jow, jang sama deng kita so brapa kali datang ambe data mar blung perna dapa bantu” “lebih baik biaya TIFF buat membantu warga lanjut usia, seperti saya sudah seringkali diambil data tetap sampai sekarang belum pernah mendapat bantuan”. tuturnya lugu dibarengi nada kesal.

Lain halnya diutarakan Bertje Rotikan aktivis dan getol menyoroti kebijakan Pemerintah Kota Tomohon yang tidak berdampak langsung terhadap masyarakat atau kemajuan daerahnya.

Katanya kalaupun ada iven semacam ini dan lainnya semestinya pemerintah selaku penyelenggara terus mengevaluasi misalnya saja antisipasi kemacetan yang cukup lama, transparan dalam penggunaan anggaran, transparan dengan kontribusi dari kegiatan ini, efek positif bagi semua warga, “Lihat saja, pada dekorasi dibeberapa kendaraan bunga hingga ornamen lain hampir sama banyaknya”. Tandasnya.

Masih menurut aktivis nyentrik, langkah promosi oleh Pemkot boleh dibilang sangat intens dilakukan.

Hampir setiap tahun rombongan pejabat berbondong-bondong silih berganti mengunjungi negara lain, kota ke kota di Indonesia kendati kontingen yang berasal dari luar terbilang belum mumpuni.

Menanggapi sorotan dan saran yang dilontarkan sejumlah warga Kadis Pariwisata Masna Pioh via telepon selularnya menegaskan, tidak semua aksesoris buat dekorasi menggunakan bunga.

“Masa semuanya harus menggunakan bunga, apabila pohon apakah kami melapisinya dengan bunga”. Ketusnya seraya balik bertanya.

Sementara itu Wulan Roeroe Kabid Promosi menjelaskan ada lima negara yang turut ambil bagian tahun ini dan satu Kabupaten yakni Manokwari Selatan.

“Kemungkinan belum berpartisipasinya negara lain maupun daerah lainnya di Indonesia, lebih ke masalah bajet”. Ujar Wulan. (Handry Tuuk).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here