PARIAMAN, kabartravel.com – Satu Iven Wisata Budaya Tabuik di Kota Pariaman, Sumbar, yang juga merupakan refleksi atau miniatur story pertempuran di Padang Karbala antara cucu Nabi Muhammad SAW yakni Hasan dan Hosen, akan digelar pada tanggal 15 September dimulai sejak pagi hingga menjelang terbenam matahari.

Proses puncak Iven Wisata Tabuik yang sudah berlangsung lama tetapi telah mengalami berbagai perubahan sehingga sekarang muncul sebagai pertunjukan kebudayaan dalam bentuk wujud Buraq, yang hanya ada dalam imaginasi kendaraan Nabi Muhammad saat peristiwa Israk Mikraj, diawali dengan pemasangan pangkek (pangkat)  di duaTabuik, yakni Tabuik Subarang dan Tabuik Pasa.

Tetapi berbeda dengan tahun sebelumnya, pada Puncak Hoyak Tabuik 2019 ini, kedua Tabuik induk, akan didampingi masing masing dua Tabuik Anak.

“Ke empat Tabuik anak ini akan dihoyak bersamaan dengan dua Tabuik Induk, yakni Tabuik Subarang dan Tabuik Pasa. Sehingga suasana dan emosional acara diperkirakan akan menjadi lebih meriah lagi,” kata Walikota Pariaman, Dr. Genius Umar, S.Sos.MSi kepada Kabartravel.com, Jumat (13/9).

Kehadiran empat Tabuik Anak secara moral merupakan bentuk partisipasi masyarakat dari empat kecamatan di Kota Pariaman untuk memeriahkan Iven Tabuik. Sebab keempat Tabuik ini yang bakal membuat suasana puncak perayaan Tabuik menjadi lebih meriah.

Keempat Tabuik kecil ini, jelas Salmi Tanjung, SE, Kepala Bidang Seni dan Budaya Dinas Pariwisata dan Budaya Kota Pariaman, masing masing berasal dari dua kecamatan asal Tabuik Induak.

Tabuik Pasa,  berasal dari Kecamatan Pariaman Tengah dan Pariaman Selatan. Sementara Tabuik Subarang, berasal dari Kecamatan Pariaman Utara dan Pariaman Timur.

 

Posisi ke empat Tabuik anak ini, akan berada dibelakang kedua Tabuik Induak. Ke empat Tabuik ini yang lebih dominan dihoyak oleh peserta pendukung Tabuik. Inilah nantinya yang membuat Puncak Iven Budaya Tabuik 2019 bakal menjadi lebih meriah.

Bertabrakan Jadual Iven Wisata Nias

Tetapi jadual Puncak Tabuik kali ini punya pengaruh terhadap tokoh pariwisata dan pemerintah nasional. Kabar yang diperoleh Iven Tabuik 2019 bertabrakan dengan Iven Wisata Nias, dimana sudah dipastikan akan dihadiri oleh Presiden Jokowi beserta sejumlah menteri, termasuk Menteri Pariwisata.

Pada Puncak Iven Tabuik ini, jelas Salmi Tanjung, Menpar mengutus Asisten Defuti Wilayah I Kemanpar RI, Riza Pahlevi. “Pak Riza sudah oke menghadiri acara Puncak Tabuik, Minggu 15 September besok,” ujar Salmi kepada Kabartravel.com di kantornya, Jumat (13/9).

Selain itu, Puncak Tabuik juga bertabrakan dengan pernikahan anak Bupati Padang Pariaman sehingga berpengaruh terhadap lalulintas di kota Pariaman, disebabkan banyaknya tamu VIP yang lewat ke Pariaman.

Untuk itu, kata Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Padang Pariaman, Hanibal, pihaknya sudah melakukan rekayasa lalu lintas bersama Dishub dan Satpol PP Kota Pariaman, yakni bagaimana membagi arus lalu lintas bagi masyarakat umum yang ingin melihat acara Puncak Tabuik dan Tamu VIP Alek Ali Mukhni.

Hanibal mengemukakan akan ada tamu tamu VIP yang akan melihat acara Puncak Tabuik setelah pulang dari acara berhelat Ali Mukhni.

“Untuk itu kami telah atur jalur khusus di jalan kawasan Pantai juga, tetapi kami pastikan tidak bertabrakan dengan lalulintas masyarakat umum,” ujar Hanibal.

Acara Puncak Tabuik

Acara prosesi Puncak Iven Budaya Tabuik, Minggu 15 September di pusatkan di Pantai Gandoriah.

Sebelumnya dilakukan prosesi acara Tabuik Naik Pangkek di Simpang Kampuang Cino dan Kampung Perak.

Prosesi kedua Tabuik ini dibatasi satu sungai di Pariaman. Itulah yang membedakan nama Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang (Seberang Sungai). Tabuik Pasa artinya berada di depan Pasar Pariaman.

Selanjutnya pada pukul 09-15.00 WIB prosesi Hoyak Tabuik Pasa dan Subarang di Perempatan Kampung Cino, yang saat ini sudah memiliki Tugu Tabuik.

Dahulunya, pada saat Hoyak Tabuik ini terjadi saling serang fisik antara kedua pendukung Tabuik sehingga tak jarang mengalami luka luka, termasuk oleh senjata tajam dan lemparan baru.

Oleh Bupati Padang Pariaman Alm Haji Anas Malik, prosesi ini diubah. Tidak boleh lagi menggunakan kekerasan fisik tetapi dalam bentuk aksi sorak sorai, yakni pada saat Tabuik dihoyak lalu dikeluarkan suara keras seperti “hoyak hoyak Tabuik, hoyakkkkkk” oleh masing masing pendukung Tabuik Pasa dan Subarang.

Meskipun hanya berupa sorak sorai tetapi secara psikologis emosional para pendukung Tabuik yang berlawanan muncul, entah apa sebabnya. Apakah ini merupakan refleksi genetika dari para pendukung Tabuik masa lalu, yang setiap musim Tabuik tiba selalu terjadi aksi kekerasan fisik.

Namun satu hal yang unik, dulu dan sekarang, jika Tabuik sudah dibuang ke laut, maka secara spontanitas kekerasan psikologis dan fisik itu pun hilang seketika. Dan kedua pendukung Tabuik saling berpelukan. Dan esok paginya sudah duduk bersama di Lapau (Lepau, Warung Kopi) dan sama sekali tidak mengingat bahwasanya sebelumnya mereka sudah baku hantam saat menghoyak Tabuiknya.

Sebelum Tabuik dibuang, Pemko Pariaman melakukan seremoni rutin. Kali ini menampilkan Tari Kolosal Pasambahan dan Band Talempong Goyang. Selesai acara seremoni kembali kedua Tabuik dihoyak dan setelah itu tepat pukul 18.00 WIB, tabuik dibuang ke laut.

Menurus Salmi, Puncak Tabuik kali ini diperkirakan bakal lebih meriah disebabkan adanya komitmen dari organisasi Persatuan Keluarga Daerah Padang Pariaman (PKDP) dari seluruh Indonesia untuk pulang kampung melihat acara Puncak Tabuik sekaligus acara baralek di Pendopo Rumah Bupati Padang Pariaman di Karan Aue.

Menurut Salmi, acara Pesta Budaya Tabuik sebenarnya sudah berlangsung sejak tanggal 1 September lalu, bersamaan dengan peringatan 1 Muharram.

Adapun kegiatan tersebut adalah, prosesi maambiah tanah, pembuatan Tabuik, manabang batang pisang, Tabuik Basalisiah (berselisih), prosesi Maatam, Prosesi Maarak Jari jari/Maradai/Turun Panja, Maarak Saroban, Merias Tabuik sampai dengan Tabuik Naik Pangkek dan terakhir Tabuik di Hoyak.

Selain itu, kata Salmi selama lima belas hari itu digelar berbagai aksi pertunjukan dan hiburan rakyat, dimana hampir semua penduduk kota Pariaman baik pria wanita, remaja dan sudah berkeluarga datang ke tempat acara tersebut menyaksikan hiburan.

Makanya dulu dikenal Musim Tabuik disebut juga dengam Musim Bercerai. Sebab pada saat itu banyak sekali orang bercerai karena menghadiri acara hiburan itu. Kalau tidak istri maka suami yang ketahuan berpacaran dan selingkuh.

Sebaliknya di kalangan remaja Musim Tabuik juga disebut dengan musim berpacaran, dulunya.

Tetapi kini dengan perkembangan kota, hal hal negatif itu sudah dikatakan tidak terjadi lagi. Kalaupun ada tinggal satu satu saja lagi.

Masyarakat sudah sadar bahwa Iven Tabuik adalah peristiwa ekonomi. Makanya mereka berlomba lomba menjual berbagai kuliner dan mainan anak anak pada puncak Tabuik yang selalu jatuh pada hari Minggu. Sebab jumlah pengunjung yang tiba pada acarq puncak Tabuik bisa berjumlah ratusan ribu orang. (Awaluddin Awe)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here