Marta : 16 Desa di Kampar Butuh Perhatian Pemerintah

0
231

PEKANBARU– Pemerhati Masyarakat Riau, Marta mengatakan, ada 16 desa di dua Kecamatan di Kabupaten Kampar Kiri, Kampar, Provinsi Riau tercatat sebagai daerah terisolasi dan tidak mendapat perhatian dari Pemerintah Pusat dan daerah.

Kondisi ke 16 desa tersebut, kata Marta yang didampingi oleh bapak Sahri sekreraris Kerajaan Gunung Sahilan Kampar Kiri,Kampar (dimana Kerajaan itu dipimpin oleh Yang Mulia Tenku Nizar)& Sahat Martin Philip Sinurat,ST,MT calon anggota DPD RI dari Riau sangat memprihatinkan mulai dari infrastruktur atau jalan utama kurang lebih sepanjang 78 kilometer yang menghubungkan antara desa dengan pusat Kota/Kabupaten Kampar, Provinsi Riau sampai kesejahteraan sosial.

Misalnya, Desa Malako Kocik, Kecamatan Kampar Kiri, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Dimana desa ini tidak ada infrastruktur jalur darat akan tetapi hanya jalur sungai dengan jarak tempuh kurang lebih 2-3 jam baru tiba di jalur darat.

Parahnya jelas Marta yang juga sebagai Pemimpin Redaksi media online kabartravel.com ini. Bukan hanya infrastruktur darat saja, masyarakat juga sangat sulit berkomunikasi melalui sambungan telpon seluler dikarenakan tidak ada pemancar / tower jaringan telkomunikasi di daerah ini.

“Pada waktu itu saja ketika tim pemerhati masyarakat riau meninjau di Desa Malako Kocik dan saat itu kepala Desa sedang kemalangan, dimana baru 40 hari istrinya meninggal,” kata Sahat Martin Philip Sinurat, ST,MT prihatin (karena biasanya Sahat Martin lebih suka turun lapangan mendengarkan/melihat langsung untuk suatu kejadian-kejadian/permasalahan-permasalahan untuk bisa dibantu serta dilaporkan kepada pihak-pihak yang dapat menolong dengan segera. Sudah banyak hasil di lapangan kurang optimal yang sudah dibantu langsung oleh Sahat Martin Philip Sinurat, ST, MT hingga ke pusat.

Kebenaran Sahat Martin Philip Sinurat bukan orang asing di Bumi Lancang Kuning dimana kakeknya alm. Bapak Matio Panjaitan adalah seorang tokoh Pelopor Riau. Sejarahnya Gubernur Riau kedua Kaharuddin Nasution meminta rekomnya untuk di naikan ke pusat, bahkan kakeknya mendapat prestasi Bapak Pembangunan Riau Senasional & mendapat sertifikat Internasional juga untuk pembangunan di Bumi Lancang Kuning.

Bahkan kakeknya seorang kontraktor di Caltex puluhan tahun hingga berpindah nama jadi Chevron /Delta perusahaan migas dari luar negeri juga dan berapa tahun di daerah Lipat Kain mendapat kontrak kerja dari perusahaan Stanvac dari London). Mesjid Anur dan gereja HKBP yang terletak di kota Pekanbaru itu hasil dari Gubernur Riau kedua yang diserahkan tanahnya kepada kakeknya lalu oleh kakeknya dihibahkan untuk mendirikan ke 2 tempat ibadah di zaman itu. Jadi jiwa Patriot /Plurarisme kakeknya turun kepada cucunya Sahat Martin Philip Sinurat, ST, MT.

Menurut penuturan Kepala Desa Kocik pak Saib kepada tim, istrinya meninggal dunia karena tidak mendapatkan perawatan medis disebabkan akses jalan hanya melalui jalur sungai tapi karena tengah malam dan air sedang naik akhirnya istrinya menghadap kepada yang maha kuasa” kata pak Saib. Sampai sekretaris Kerajaan Gunung Sahilan Kampar Kiri bapak Sahri (seorang pengusaha juga) begitu kaget baru mendengar penuturan Kepala Desa bahwa istrinya meninggal dunia karena tidak ada alat komunikasi tidak bisa diinfokan kepada kerabat-kerabat Kerajaan Gunung Sahilah Kampar Kiri dll.

Pak Saib (Kades, red) menceritakan nasib desanya kepada Tim Pemerhati masyarakat yang turun kelokasi yang dipimpin langsung Marta Uli Emmelia, mengatakan, ketika istrinya meninggal pada tengah malam, baru bisa menghubungi warga sekitar esok pagi harinya, karena baru terhubung jaringan telpon seluler warga harus naik ke gunung dengan jarak sekitar 3 kilometer dari pemukiman warga akibat jaringan tidak terjangkau di desanya. Bahkan akses jalan utamapun harus melalui sungai menggunakan perahu.

“Iya pak, Transportasi warga sini menggunakan perahu karena tidak akses jalan jalur darat. Jadi, mau tidak mau warga harus menempuh perjalanan selama 2 s/d 3 jam baru sampai ke jalur darat antara pemikiman warga lainnya”

Marta yang baru pulang dari Maroko Afrika Utara meminta pemerintah untuk memprioritaskan masyarakat pendalaman yang terisolasi sehingga merasa dijajah oleh negaranya sendiri dan belum menikmati arti dan makna kemerdekaan di Negara Indonesia.

“Iya, jaringan komunikasipun disana tidak ada, sehingga warga naik ke gunung yang lebih tinggi terlebih dahulu dengan jarak tempuh 1 (satu) jam lebih baru bisa menghubungi warga lainnya. Hal itu diakibatkan ketidak adanya tower jaringan dari pemerintah dan swasta yang merupakan salah satu akses komunikasi warga. Jelas Marta dengan mengeluarkan air mata melihat kondisi warga saat ini begitu juga dengan Calon DPD RI Sahat Marti Philip Sinurat, ST, MT sampai terenyuh sekali menyaksaksikan kondisi Desa Malako Kocik yang mewakili desa-desa yang lain di Kampar Kiri Hulu, Kampar, Riau.

Kenapa sampai seperti ini kondisi di daerah itu sementara para masyakatnya memiliki jiwa berjuang yang sangat tinggi. Lalu komentar dari sekretaris Kerajaan Gunung Sahilan bapak Sahri habis bagaimana lagi kami hanya bisa pasrah saja seperti kami di anak tirikan sama pemerintah setempat beserta pusat. Bukan mereka tak mengetahui keberadaan daerah kami tapi seperti tutup mata selama ini.

Sementara Kepala Desa Kocik, bapak Saib mengatakan, warga desa telah berupaya meminta bantuan kepada pemerintah setempat dan pemerintah Provinsi Riau hingga pemerintah Pusat untuk segera dibangun akses jalan jalur darat serta melakukan pengaspalan jalan yang rusak dan membangun jaringan telkomunikasi bagi warga desa.

Namun, berbagai upaya yang dilakukan itu hingga kini tidak kunjung mendapat tanggapan yang serius, padahal setiap Pilkada, Pileg dan Pilpres suara kami dibutuhkan dengan seribu juta janji-janjipun/ janji-janji manis dilontarkan tapi itu hanya hisapan jempol setelah mereka pada duduk.

Kami berharap pemerintah daerah dan pusat turun ke daerah kami untuk melihat secara langsung kondisi desa Malako Kocik kami ini dan sekitarnya. Jangan hanya setiap momen pemilihan tim suksesnya saja yang turun berjanji manis tanpa muara.

“Kami harapkan Tower jaringan Telkomunikasi secepatnya didirikan di desa kami agar masyarakat dapat berkomunikasi jika meminta bantuan pada saat-saat mendesak sehingga masyarakat tidak lagi mengalami hal yang serupa seperti istri saya (Saib,red) yang tidak mendapat pertolongan medis ketika mengalami sakit ringan hingga sakit parah” kata Marta dimana hati nurani pemerintah setempat untuk menyampaik ke pusat agar daerah Kampar Kiri Hulu khususnya di Desa Malako Kocik dan sekitarnya untuk diperhatikan. Sangat menyayat hati daerah Bumi Lancang Kuning dielu-elukan sebagai Penyumbang PAD (Pendapatan Daerah Tertinggi seIndonesia tapi dampak PAD itu tak dirasakan oleh desa Malako Kocik dan sekitarnya. Sampai kapankah kata Yang Mulia Tengku Nizar sebagai raja di Kerajaan Gunung Sahilan Kampar Kiri daerah yang dipimpinnya bisa dibangun oleh pemerintah (berapa bulan beliau yang menyematkan kepada bapak Presiden RI pada kesempatan itu karena bapak Presiden Jokowi diberi gelar adat) “kata sekretaris Kerajaan bapak Sahri. (Anas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here