Kabartravel.com – Kalau traveling ke Jepang, kadang melihat orang-orang setempat, para pekerja yang tertidur di kursi atau di kereta. Tidur menjadi suatu ‘barang mewah’ di sana.

Fenomena kurang tidur tampaknya sudah identik bagi masyarakat Jepang. Di balik kecanggihan teknologi dan predikat negara maju, hal itu menjadi sisi kelam bagi Negeri Sakura.

Pemandangan orang-orang tertidur di tempat umum di Jepang merupakan hal yang biasa. Ada yang di kedai makanan, di bangku pinggir jalan, di taman sampai di transportasi umum seperti di kereta dan bus.

Orang-orang tersebut adalah para pekerja kantoran. Mereka sudah sejak lama mengeluhkan satu hal: kurang tidur.

Kita tahu memang, para pekerja di Jepang terkenal dengan kerja keras. Dikasih libur protes, serta mampu bekerja berjam-jam dan malah ada yang sampai bermalam di kantor.

Orang Jepang begitu bangga dengan prestasi dan gengsi. Mereka tak mau kalah, pantang menyerah dan selalu ingin jadi nomor satu. Namun itu semua, memunculkan satu masalah. Ya itu, kurang tidur.

Dilansir dari BBC, Senin (12/8/2019) terdapat istilah ‘karoshi’ yang artinya terlalu banyak bekerja karena kurang tidur. Tak ayal, kurang tidur sudah menjadi masalah nasional di Jepang!

Suatu organisasi dunia, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mengungkapkan, Jepang memiliki rata-rata jam tidur terpendek di dunia yaitu 442 menit per hari atau kira-kira sekitar 7,3 jam semalam selama setahun.

Negara-negara maju lainnya seperti Inggris, Prancis, AS dan Cina angkanya lebih tinggi. 500 Menit per hari atau 8,3 jam semalam selama setahun.

Kurang tidur bahkan sudah menelan korban jiwa di Jepang. Tahun 2013 misalnya, seorang reporter TV yang berusia 31 tahun meninggal dunia akibat gagal jantung. Dia ditemukan sudah dalam keadaan tewas di kamarnya, dengan posisi masih memegang ponsel. Dia meninggal karena hanya mendapat dua hari libur sebulan.

Di tahun 2017, seorang pekerja di biro iklan berusia 24 tahun meninggal dengan cara melompat keluar jendela. Setelah sebelumnya, dia memposting kata-kata di media sosialnya berupa, ‘Saya akan mati, saya sangat lelah’.

Pemerintah Jepang sejak bulan April 2019 kemarin sudah memberlakukan aturan baru dalam undang-undang ketenagakerjaannya. Pemerintah Jepang membatasi kerja lembur menjadi 45 jam sebulan dan 360 jam setahun.

Masyarakat Jepang sendiri sebenarnya sudah sadar akan hal tersebut. Oleh sebab itu, banyak perusahaan yang mengatasi masalah kurang tidur dengan ‘hirune’ yang artinya tidur siang.

Tidur Siang Menjadi Solusi

Tidur siang menjadi solusi alternatif untuk mengatasi fenomena kurang tidur. Beberapa perusahaan sudah memberlakukan jam tidur siang untuk karyawannya.

GMO Internet Group, suatu perusahaan di Tokyo yang bergerak di bidang teknologi, mengubah ruang meeting mereka jika tidak digunakan sebagai tempat tidur siang. Waktu tidur siang adalah selama 1 jam dari pukul 12.30 siang.

Ruang meeting tersebut ditambahkan aroma lavender dan musik yang menenangkan. Cahaya lampu juga diredupkan, supaya mendapatkan tidur siang yang berkualitas.

“Dengan cara ini, para karyawan dapat secara efektif untuk beristirahat dan menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik,” kata Sae Takahashi, juru bicara dari GMO Internet Group.

Takanori Kobayashi, salah seorang pengusaha muda di Jepang yang keluar dari pekerjaannya karena hancur jam tidurnya, mendirikan NeuroSpace. Suatu start-up dengan misi mengimplementasikan ‘program tidur’ untuk suatu perusahaan.

“Ketika saya lulus kuliah dan memulai karir saya sebagai pegawai, saya memasuki siklus yang mengerikan,” kata Takanori.

Sejak tahun 2014, NeuroSpace telah bekerja dengan lebih dari 70 perusahaan di Jepang untuk penerapan program tidur dalam peningkatan produktivitas karyawan. Simpelnya, NeuroSpace akan menganalisis soal butuh jam tidur berapa lama bagi karyawan di suatu perusahaan jika dibandingkan jam kerjanya. Bahkan, NeuroSpace mendorong perusahaan untuk memiliki fasilitas kamar tidur supaya bisa digunakan karyawan untuk tidur siang.

“Dari sudut pandang bisnis, saya tahu bahwa ini tidaklah penting. Tapi saya tidak mau selalu ada masalah kurang tidur bagi seorang karyawan,” tegasnya.

Menariknya, beberapa sekolah di Jepang sudah menerapkan jam tidur siang bagi siswanya. Suatu sekolah bernama Meizen High School di Fukuoka misalnya, menjadi perbincangan karena banyaknya siswa yang mendapat beasiswa dari University of Tokyo. 2 Kali lipat lebih banyak dibanding tahun sebelumnya.

Sekolah tersebut memberikan waktu tidur siang selama 10 menit setelah jam makan siang. Setelah itu, barulah pelajaran terakhir dan bel pulang sekolah dibunyikan. Dengan tidur siang, dinilai siswa-siswa menjadi lebih produktif dan dapat mencerna pelajaran dengan baik.

Tahun 2016 berdiri Japan Organisation for Better Sleep. Suatu organisasi berisi para dokter dan psikolog, yang bertujuan memerangi fenomena kurang tidur.

Japan Organisation for Better Sleep selalu menyebarkan informasi dan mendorong orang-orang untuk mendapat tidur yang cukup. Mereka pun mendorong pemerintah Jepang untuk lebih memperhatikan jam tidur dan keseimbangan antara bekerja dan istirahat.

“Kami pikir, pengetahuan tentang tidur bagi dokter-dokter di pusat-pusat kesehatan Jepang masih kurang. Ilmu tentang tidur dan gangguan tidur pun tidak begitu diperhatikan,” kata ketua Japan Organisation for Better Sleep, Shuichiro Shirakawa.

“Perusahaan dan karyawan harus bersatu dan memecahkan masalah bersama. Saling memberikan solusi, supaya kerjaan selesai maksimal tetapi juga mendapat waktu tidur yang sangat cukup dan berkualitas,” lanjutnya.

Sebenarnya, masalah tidur siang di Jepang pun tak harus diselesaikan dengan teknologi canggih atau penemuan muktahir. Cukup, hanya cukup dengan cara alamiah yakni mengubah pola hidup dan memperhatikan waktu tidur.

Sekali lagi, memperhatikan waktu tidur dan jangan nafsu bekerja melulu.

Sumber : Detik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here