Jakarta, Kabartravel.com – Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) kembali laksanakan webinar dengan tema “Sinergisitas Pendidikan Vokasi Pariwisata dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri” Sabtu, 20 Juni 2020, disponsori Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) dan didukung Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Kemenparekraf, Hildiktipari DPW V, Asosiasi SMK Pariwisata, LPK, dan LKP.

Webinar yang dibuka Rektor UBSI, Mochamad Wahyudi ini, merupakan webinar series yang bertujuan menghasilkan output, pedoman penyelengaraan Pendidikan vokasi pariwisata, diantaranya disampaikan oleh Prof Azril Azahari, Ketua Umum ICPI).

Azril menyampaikan, kurikulum seharusnya ditinjau setahun sekali, bukan lima tahun sekali, karena perkembangan industri yang sangat cepat, selain itu kurikulum yang berbasis okupasi menjadi kebutuhan yang sangat mendesak untuk menghasilkan SDM bermutu.

Pada keynote speach, Dede Yusuf, wakil ketua Komisi X DPR RI menyampaikan bahwa Sektor pariwisata sangat terdampak di masa pandemik.  Namun, mempunyai peluang yang sangat besar setelah masa pandemik berakhir, dimana minat berwisata masyarakat meningkat..

Selain itu, masyarakat sendiri mempunyai tendensius melakukan wisata, apabila memiliki uang. Dalam hal ini keberadaan pendidikan vokasi dan berbagai pelatihan mempunyai peranan yang sangat kuat dalam mensupply SDM yang inline dengan kebutuhan industri, SDM yang progresif, dan menguasai teknologi.

Lebih lanjut Dede Yusuf menyebutkan, masa pandemi telah menyebabkan pelambatan ekonomi nasional yang berdampak pada penuruan daya beli, kecemasan, dan ketakutan masyarakat.

Dalam hal ini, pemerintah harus mampu menaikkan pertumbuhan ekonomi  nasionl agar daya beli masyarakat pulih, yang berimbas pada tingginya aktivitas wisata sebagai salah satu cara ampuh untuk memulihkan kondisi psikologis yang buruk sebagai dampak masa pandemik. “Negara harus mampu meyakinkan publik, bahwa berwisata pasca pandemik sudah aman,”tegas Dede

BACA JUGA :  Wonderful Indonesia Raih Hasil Manis di ITB Asia 2017

Sementara itu, Wikan Sakarinto, Dirjen Vokasi Kemendikbud menyampaikan strategi utama yakni Link and Match yang menjadi kebijakan sampai dengan 5 tahun ke depan.

Perbedaan dengan link and match sebelumnya, yakni sebuah proses link and macth yang sampai dengan menikah, punya anak dan dibesarkan bersama. Dalam proses ini, pendidikan dan dunia industri seiring sejalan, apabila industri mengalami perubahan, maka pendidikan bisa mengikuti perubahan tersebut, tidak berjalan sendiri-sendiri. Link & match diupayakan sampai mendarah daging, sehingga mampu menghasilkan lulusan yang kompeten.

Dalam rangka menghasilkan lulusan yang kompeten, maka harus didukung dengan dosen-dosen yang mampu mengikuti perkembangan industri, sehingga program dosen magang diindustri harus dilakukan minimal 5 tahun sekali.  Selain itu, inovasi pada proses juga sangat penting sekali agar menghasilkan output yang kompeten, yakni output yang memiliki hardskil dan soft skill yang seimbang dibungkus dengan attitude dan integritas, serta karakter profesionalitas.

Sedangkan Frans Teguh, plt Deputi Bidang Sumber daya dan Kelembagaan Kemenprakraf, menyampaikan bahwa masa pandemi membawa dampak perubahan yang sangat signifikan pada perilaku konsumen dan manajemen atau penataan pariwisata.

Kondisi ini, menjadi perhatian dalam mendorong dan menghadirkan kualitas human capital, yang bertul-betul professional, inovatif, kreatif, dan berjiwa entrepreneurship.

Tantangan SDM yang link and match dgn kebutuhan industri menjadi moment untuk reinventing atau menemukan kembali model-model pembelajaran yang link dengan tantangan pariwistaa ke depan.

Kekuatan bangsa yang terletak pada hospitality dan kreatifiti, menjadi capital yang bisa diterjemahkan dalam pembelajaran yang tepat. Dunia Pendidikan dan semua elemen terkait  harus memastikan tantangan industri 4.0 dan masyarakat 5.0 dapat dijawab dengan baik,  melalui pengelolaan secara holistik.

Dalam hal ini peran Pendidikan dalam menghasilkan SDM yang berkualitas untuk membangun pariwiasta yang bersifat people center sangat dibutuhkan. (Wisja/Rel)

BACA JUGA :  Industri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Perlu Lakukan Remodelling

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here