DHARMASRAYA –Pemerintah Kabupaten Dharmasraya dibawah kepemimpinan Sutan Riska Tuanku Kerajaan dan Amrizal Dt Rajo Medan akan membawa Dharmasraya ke mata dunia melalui Festival Pamalayu yang lounching perdana akan digelar di Museum Nasional, Jakarta, Kamis (22/8).

“Kita akan menyingkap tirai Sejarah Dharmasraya dan akan memperkenalkan Dharmasraya ke dunia melalui Festival Pamalayu ini, ” ungkap Kepala Dinas Kebudayaan Pemuda dan Olah Raga, Sutan Henri kepada tim media humas.

Dikatakan Rajo Siguntur ini, pemerintah kabupaten Dharmasraya akan menggelar talkshow bersama tempo dengan tema menyingkap tirai sejarah Dharmasraya yang akan menghadirkan pembicara dari Kementrian Kebudayaan RI yakni Dirjen Budaya Hilman Farid, kemudian dari Arkenas Bambang Budi Utomo dan perkumpulan Wangsamudra Wenri Wenhar serta dimoderatori oleh Direktur Tempo.co Tomy Ariyanto.

“Bapak Bupati akan menjadi opening speech diacara ini, kegiatan ini akan diramaikan oleh para budayawan dan pemerhati budaya di Indonesia serta para peneliti budaya baik Nasional maupun mancanegara serta masyarakat umum. Dari kegiatan ini kita akan melaunching festival Pamalayu,”tegasnya.

Dikatakan Mantan Camat Pulau Punjung ini, festival Pamalayu ini akan menjadi momentum sejarah bagi Dharmasraya dan menjadi kado istimewa bagi Dharmasraya yang akan berusia 15 tahun, “jelasnya.

Kata Sutan Hendri, pihaknya berharap kepada seluruh masyarakat untuk bersama sama mensukseskan acara festival Pamalayu yang dari kegiatan ini akan mengenalkan Dharmasraya tidak hanya dimata Indonesia saja tetapi juga dimata dunia.

” Berbagai macam kegiatan akan kita gelar dalam menyuksesman festival Pamalayu yang baru pertama kali digelar di Dharmasraya dan menjadi festival terbesar di Sumatera Barat,”tandasnya.

Sementara itu Bupati Dharmasraya, Sutan Riska Tuanku Kerajaan, mengatakan Festival Pamalayu yang pertama kalinya digelar akan diisi dengan pantas seni budaya, seminar dan simposium yang materinya berkaitan dengan sejarah dan budaya di Kerajaan Swarnabhumi. “Kemudian pameran kuliner, pameran benda klasik maupun kontemporer,” katanya.

Ia menjelaskan Pamalayu lahir dari sebuah peristiwa yang diperkirakan terjadi pada abad 12 Masehi saat itu rombongan bangsawan dari Kerajaan Singosari melakukan muhibah ke Swarnabhumi.

Puncak dari muhibah tersebut didirikannya patung Bhairawa di Dharmasraya yang menjadi ibukota Kerajaan Swarnabhumi saat itu. Peristiwa itu dikenal dengan ekspedisi Pamalayu.

“Maka dari itu kami menggagas Festival Pamalayu dilaksanakan Agustus,” katanya

Menurut dia sebagai daerah yang menjadi pusat pemerintahan kerajaan di masa lampau perlu dilakukan upaya menjaga nilai luhur sehingga tetap eksis di masyarakat, khususnya generasi muda.

“Salah satu momentum untuk mengingat serta menggali peninggalan budaya itu adalah dengan menggelar Festival Pamalayu,” katanya.
(Humas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here