HeadlinesTraveling

Bukik Sakura, Potensi Unggulan Baru Destinsi Wisata Agam

Agam, Kabartravel.com –  Bicara potensi destinasi wisata di Kab.Agam, Sumaterra Barat (Sumbar), memang tidak ada habisnya. Kini, ada satu lagi yang baru, sepertinya bakal mejadi objek wisata unggulan daerah ini, yakni “Bukik Sakura”.

Sebenarnya panaroma yang berada di desa Data Munti, antara puncak Lawang dengan Danau Maninjau ini sudah lama ada, hanya saja baru dikembangkan.  Warga Data Munti dengan dukungan Dana Desa Nagari Baringin berinisitif mengembangkan .

Pemandangan yang sangat indah, konon lebih indah dari panaroma Puncak Lawang dan Lawang Park. Selain pemandangan yang indah, desa ini juga dikenal sebagai penghasil bubuk kopi sejak dulu, yang dapat juga menjadi daya tarik tersendiri. Bersantai sambil menikmati Sabuak Data (Sabuak, sebutan bubuk kopi, oleh masyarakat sekitar).

Deskripsi hamparan luas Danau Maninjau lebih luas dan lebih lengkap di Bukik Sakura ini. Lokasi terletak di lereng perbukitan Danau Maninjau dengan posisi cukup tinggi. Terdapat 4 (empat) jorong (dusun) sebagai daerah perbatasan antara Kecamatan Palembayan dengan Kecamatan Tanjung Raya.

Ada dua akses jalan menuju Bukik Sakura. Jalur pertama dari atas puncak, melalui Nagari Sungai Pua Kecamatan Palembayan atau Puncak Lawang Kecamatan Matur. Jika dari bawah, kita akan melalui Pasar Akhaik, Jorong Koto Baru, Nagari Duo Koto hingga melalui Nagari Paninjauan, Kecamatan Tanjung Raya.

Di lereng perbukitan tersebut terdapat 4 (empat) perkampuangan  atau jorong. Seperti Data Munti, Data Aia Gadang, Data Sungai Pua dan Data Simpang Dingin. Tiga jorong masuk wilayah Nagari Baringin, Palembayan. Sementara satu jorong lagi masuk wilayah Nagari Paninjauan, Tanjung Raya yakni Data Simpang Dingin.

Nenek moyang perkampungan pelosok itu berasal dari dua daerah. Pertama dari Nagari Sungai Pua Palembayan yang hendak “Manaruko” mencari pemukiman baru dan hidup ditempat yang baru. Sementara periode kedua, berasal dari Koto Tinggi Paninjauan.

BACA JUGA :  Kemenpar Kejar Target 4 Juta Wisatawan Lewat Wisata Bahari

“Nenek moyang kami berasal dari dua daerah pada saat masa penjajahan Belanda dan Jepang. Selain untuk mengungsi menghindari siksaan dan penjajahan, dengan hidup tempat baru dengan Manaruko, membuat kenyamanan  hidup semakin baik pada saat itu,” Ungkap Herman (63), salah seorang warga Data Sungai Pua, seperti dikutip dari Prokabar.com.

Sementara itu, Wali Jorong Data Simpang Dingin, Robi didampingi Wali Jorong Paninjauan Jeptizal dalam suatu kesempatan mengatakan nenek moyang Data Simpang Dingin berasal dari Koto Tinggi, Paninjauan. “Nagari Paninjauan dulunya tidak memiliki tapian sehingga seorang tetua adat Angku Lareh Ampiang Dadak dari Suku Sikumbang menyuruh sebagian kaumnya untuk ke sini,” terangnya.

Walinagari Baringin, Yulbahri Datuak Nan Kodo menjelaskan sejak 2019 lalu Pemerintah Nagari Baringin sudah mulai mengembangkan potensi wisata Bukit Sakura.

“Belum kami ketahui secara pasti sejarah nama “Bukik Sakura” ini. Namun yang pasti, pemandangan indah di sini membuat banyak masyarakat terpukau dan senang. Membuat kunjungan terus semakin ramai setiap tahunnya,” tuturnya.

Bukik Sakura semakin ramai dikunjung berkat adanya temuan BKSDA Resor Agam mengekspos Bunga Rafflesia yang berada di Data Simpang Dingin. Daya tarik ini memperkuat kunjungan wisatawan mancanegara, nasional dan lokal datang ke Danau Maninjau. Khususnya ke Kabupaten Agam.

Potensi tersebut jelas tidak disia-siakan begitu saja. Kondisi ekonomi masyarakat di daerah pelosok tersebut saat ini hanya bergantung pada cengkeh, jagung dan padi dengan luas tidak begitu banyak. Keunikan lainnya dari sisi pertanian dan khuliner adalah beras merah atau nama latin Oryza longistaminata atau Oryza punctata. Beras merah hampir merata ada di setiap rumah warga. Biasanya dimakan dengan gulai daun Sitapu. Dan ini akan menjadi kuliner khas dari daerah tersebut.

BACA JUGA :  Sijuk Heritage Belitung Jadi Model Pengembangan Desa Wisata Multikultural

“Tahun 2020 ini, selain anggaran dana desa, kami juga dapat bantuan dana dari seorang dermawan. Dalam waktu cepat, kami akan membangun kedai-kedai, mushalla, toilet, palanta, tambahan rumah pohon satu lagi serta gajebo yang nyaman untuk wisatawan,” pungkasnya.  (Wisja)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close
Close