Ketum DPP ASITA DR.N Rusmiati saat Vidio converence (Foto: Ist)

Jakarta, Kabartravel.com – COVID-19 yang tengah mewabah saat ini, berdampak bagi semua sektor perekonomian terutama di bidang Pariwisata. Pemerintah Republik Indonesia dalam hal ini Kementrian Pariwisata dan ekonomi kreatif bersama ASITA yang menaungi stakeholders Biro Perjalanan wisata di Indonesia, mengambil langkah-langkah terbaik dalam menghadapi kondisi ini.
Selasa malam (24/03/20202) ASITA yang diwakili Ketua Umum DR.N.Rusmiati, Wakil Ketua umum 1, Budianto Ardiansjah, serta Koordinator Bidang Litbang dan SDM, DR (cand) Hj. Masrura Ramidjal melakukan video converence bersama semua stakeholders di indutri pariwisata dan ekonomi kreatif dengan Menparekraf, Wishnutama,di Jakarta.
Pada kesempatan tersebut ASITA menyampaikan kondisi yang dialami oleh anggotanya Biro Perjalanan Wisata (BPW) saat ini. Dari hasil survey yang di lakukan pada 17-21 Maret 2020 lalu disimpulkan bahwa 55,7% BPW anggota ASITA mengalami hingga 100% penurunan penjualan atau sudah tidak ada lagi transaksi, sementara itu 35,7% mengalami penurunan sebanyak 75%. Hal ini mencakup semua bidang usaha BPW seperti Paket tour inbound, outbound dan domestic.
ASITA (Asosiasi Biro perjalanan wisata Indonesia) sebagai asosiasi biro perjalanan wisata terbesar di Indonesia, yang berdiri sejak tahun 1971, beraggotakan 7000 BPW yang tersebar di seluruh Indonesia.
Dalam video converece ini terungkap, bahwa penjualan tiket domestic dan International, penjualan paket Umroh dan BPW yang bergerak di sector MICE (Meeting, Incentive, Convention dan Exhibition), 70,2% konsumen dari BPW anggota ASITA membatalkan rencana perjalanan mereka dan 24,4% menundanya hingga kondisi membaik.
Pada kondisi seperti ini 40,6% anggota ASITA sudah kesulitan membayar Gaji karyawannya dan 28,5% kesulitan membayar operational perusahaan seperti listrik, telepon, air, BPJS, pajak/pbb dll, diikuti oleh kesulitan membayar cicilan bank dan kewajiban lainnya sebanyak 13,8%.
Untuk mengantisipasinya saat ini sebanyak 43,6% BPW sudah mengurangi jam operational kantor, 27,3% sudah mulai merumahkan karyawannya, 16% sudah mengurangi Gaji dan insentif pegawainya bahkan 13,1% sudah mulai memPHK karyawannya.
Dari hasil survey tersebut juga di dapatkan bahwa 47% BPW anggota ASITA akan tetap berusaha membuka kantornya dengan pelayanan yang terbatas, 30,2% mencari sumber pendapatan lain, dan 20,5% BPW akan menutup kantornya sementara dan menunggu kondisi membaik.
Dari hasil survey qualitative didapat angka kerugian yang di derita saat ini adalah sekitar USD 3,9 Milyar atau sekitar 55 Trilyun dengan kurs 1 USD 14.000 dari berbagai jenis usaha Biro Perjalanan Wisata.
Menyikapi kondisi tersebut, ASITA mengusulkan kepada Pemerintah untuk memberikan stimulus berupa Keringanan pembayaran cicilan hutang produktif kepada bank/Lembaga pembiayaan, penghapusan/penundaan bunga kredit dan cicilan hingga kondisi perekonomian pulih.
Seperti yang disampaikan DPP ASITA melalui siaran pers-nya kepada Kabartravel.com, ASITA berharap kepada pemerintah, agar:
– Memberikan stimulus Kredit tanpa agunan dan berbunga rendah kepada BPW yang memerlukan agar tetap bisa menjaga cash flow perusahaan dan membayar gaji pegawai/tidak memPHK karyawan.
– Penghapusan pembayaran pajak PPH 25 dan PPH 21 serta berbagai retribusi yang meberatkan BPW
– Keringanan pembayaran tagihan listrik, air, BPJS kesehatan dan BPJS ketenagakerjaan.
– Membantu BPW untuk tetap promosi penjualan paket Wisata baik online maupun offline. Khusus untuk promosi inbound di luar negeri, pemerintah diminta memberikan fasilitas yang maksimal bagi BPW, tidak hanya free booth tetapi juga biaya perjalanan.
– Memberikan insentif kepada BPW untuk membawa group inbound keIndonesia dengan ketentuan yang jelas dan lebih mudah.
– Memberikan paket-paket pelatihan peningkatan kapasitas SDM pariwisata selama kondisi belum pulih untuk menyiapkan SDM agar lebih baik melayani pelanggan di masa yang akan datang.
– Dukungan dari Pemerintah pada penyelenggaraan ASITA WISE TRAVEL FAIR 2020 yang saat ini ditunda dan akan dilaksanakan jika kondisi sudah memungkinkan sebagai penyemangat dan sarana mempromosikan destinasi dari seluruh Indonesia agar pariwisata kembali bergairah.

BPW berfungsi sebagai “perantara” atau Intermediary yang menghubungkan wisatawan dengan pemasok (Airlines,Hotel, Restaurant, Transportasi, destinasi wisata, Tour guide, Penjual Cenderamata, dan sektor informal lainnya baik yang berada di destinasi wisata atau tidak.
Pengaruh rantai ekonomi atau multiplier effect dari turunnya penjualan paket tour akan sangat berpengaruh kepada sektor lain terutama di sektor informal.
Dalam kesempatan ini Menparekraf memberikan arahan agar semua BPW tetap kompak dan bersatu serta menumbuhkan kreativitas dan inovasi-inovasi di dalam menghadapi kondisi kelesuan industry pariwisata. Pemerintah tidak akan tinggal diam dan akan terus mensupport agar bisnis pariwisata Indonesia tetap hidup dan memberikan kontribusi ekonomi secara maksimal. (Wisja)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here